top of page

Pemanfaatan Teknologi Facial Recognition AI dalam Menjaga Pintu Gerbang Negara

  • CMBS Contributor
  • Jul 1, 2020
  • 4 min read

ilustrasi teknologi facial recognition.


Teks oleh Bagas Hidayat Putra


Sistem Informasi dan Manajeman Keimigrasian (SIMKIM) merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh fungsi keimigrasian baik di dalam maupun di luar negeri.

Melalui penerapan SIMKIM, pelaksanaan fungsi keimigrasian seperti pelayanan paspor untuk WNI ​akan semakin efektif, terintegrasi dan professional.


Seperti yang kita ketahui bersama bahwa keimigrasian bukanlah sekedar paspor, visa, izin tinggal, maupun orang asing. Namun keimigrasian mencakup hal-hal yang lebih luas cakupannya, seperti keselamatan umat manusia, kesejahteraan orang sebagai warga negara, serta keamanan negara.


Kita hidup dalam era globalisasi yang mengutamakan kemajuan teknologi dalam segala bidang. Mulai dari hal kecil seperti mencuci baju, membeli sebuah barang, dan juga melakukan komunikasi yang jaraknya jauh, semua hal itu dapat kita lakukan dengan adanya bantuan dari teknologi.


Disadari maupun tidak, teknologi sudah menjadi sebuah kebutuhan primer bagi sebagian besar umat manusia di seluruh dunia.


Perlu kita ketahui bahwa contoh-contoh tersebut hanyalah sebagian kecil dari ilmu teknologi. Sampai saat ini sudah sangat banyak sistem teknologi yang sangat luar biasa canggihnya.


Didasari dengan semakin besar dan banyaknya kebutuhan manusia yang semakin kompleks, mendorong banyak para ahli untuk melakukan riset dan mencari inovasi-inovasi guna menciptakan dan mengembangkan teknologi yang semakin baik dan juga maju.


Sebagai contoh, apakah anda pernah menonton sebuah film berjudul HER? Dalam film ini menceritakan sebuah kisah bagaimana sebuah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang bernama Samantha, yaitu sebuah asisten pribadi yang datang dari tahun 2025.


Samantha seperti seorang sahabat yang dapat melakukan hal apa saja, termasuk mengatur segala kebutuhanmu.


Saat ini, perusahaan teknologi berskala besar maupun kecil berlomba-lomba untuk mewujudkan hal tersebut.


Anda pun pasti pernah membaca berita mengenai ini. Kamu juga pasti pernah mendengar sebuah sebutan seperti AI, pembelajaran mesin (machine learning), deep learning, jaringan saraf (neural networks), atau pemrosesan bahasa alami (natural language processing).


Sekarang kita mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan AI atau artificial intelligence? Apa tujuannya dibuat? Apakah dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara signifikan ke depannya?


Mari kita bahas dimulai dari definisinya. Secara sederhana, AI adalah suatu cara untuk menjadikan komputer berpikir secerdas atau melampaui kecerdasan manusia. Tujuannya adalah agar komputer dapat memiliki kemampuan untuk berperilaku, berpikir, dan mengambil keputusan layaknya manusia.


Kecerdasan Buatan (AI) adalah istilah umum yang mengacu pada teknologi yang mampu membuat mesin menjadi "cerdas." Organisasi berinvestasi dalam penelitian dan aplikasi AI untuk mengotomatisasi, meningkatkan, atau mereplikasi kecerdasan manusia - analisis dan pengambilan keputusan manusia - dan profesi audit internal harus siap untuk berpartisipasi penuh dalam inisiatif organisasi dalam menerapkan AI.


Sejarah munculnya keberadaan AI atau dapat disebut juga dengan kecerdasan buatan ini dimulai pada tahun 1950 oleh seorang pionir AI dan ahli matematika Inggris. Ia melakukan sebuah percobaan yang dinamakan Turing Test. Yaitu sebuah percobaan sebuah komputer yang terminalnya diletakkan pada jarak yang cukup jauh.


Di ujung yang satu ada terminal yang sudah dilengkapi dengan software AI dan diujung lain ada sebuah terminal dengan seorang operator yang mengoperasikannya. Dan operator tersebut sama sekali tidak mengetahui jika di ujung terminal yang satunya telah dilengkapi dengan software AI.


Mereka saling berkomunikasi satu sama lain, operator memberikan serangkaian pertanyaan terhadap subjek yang berada di ujung terminal lainnya, tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut direspon dan dijawab oleh software AI yang telah dipasang di ujung terminal. Uniknya, sang operator itu mengira bahwa ia sedang berkomunikasi dengan operator lainnya yang berada di terminal lain.


Dari hasil percobaan ini, Turing beranggapan bahwa jika mesin dapat membuat manusia percaya bahwa dirinya mampu berkomunikasi dengan manusia, maka dapat dikatakan bahwa mesin tersebut cerdas layaknya manusia.


Berdasarkan sejarah AI tersebut, dapat disimpulkan adalah AI dibuat tidak untuk menyamai kecerdasan manusia, namun dibuat untuk dapat membantu manusia dalam melaksanakan setiap aktivitas dengan lebih mudah dan efektif. Hingga saat ini AI terus dipelajari dan dikembangkan dalam berbagai aspek dan bidang kehidupan manusia.


Dapat diketahui pula bahwa AI itu terbagi menjadi 2 macam, yaitu AI dengan kemampuan yang lemah (weak) dan AI dengan kemampuan yang kuat hingga tak terbatas (strong) kekuatannya (Kristian Hammond, Practical Artificial Intelligence for Dummies, 2015).


Untuk AI dengan kemampuan yang lemah cenderung dibuat untuk membantu manusia menyelesaikan tugas-tugas yang sederhana, seperti membantu mengingatkan notifikasi, menjawab pertanyaan manusia, dan bermain catur dengan manusia.


Berbeda lagi dengan AI dengan kemampuan yang kuat hingga tak terbatas, yang satu ini dirancang secara khusus dengan jangka waktu fungsi yang panjang. AI semacam ini dapat mempelajari hal-hal baru, beradaptasi, berkembang, hingga dapat berpikir benar-benar seperti layaknya manusia.


Apabila tidak dapat dikendalikan dengan baik, AI dengan kemampuan kuat akan menjadi sangat menyeramkan. Tentu kalian pernah melihat film Terminator? Seperti itulah contoh AI atau kecerdasan buatan yang apabila tidak dapat dikendalikan dengan baik, akan menyebabkan hilangnya kendali hingga menyebabkan kehancuran yang sangat besar.


Maka dari itu, kita sebagai umat manusia yang memiliki kecerdasan serta akal yang sehat, harus cerdas dalam berpikir dan mengembangkan inovasi yang kita miliki.


Dengan adanya teknologi yang maju, tentu kita dapat menikmatinya dengan sangat nyaman, tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga yang banyak dalam melaksanakan suatu aktivitas yang dapat dibantu dengan teknologi, namun hal ini sebaiknya tidak membuat diri kita terlena sebagai manusia biasa.


Dalam inovasi face recognition for immigration system ini nantinya harus sudah terintegrasi dengan SIMKIM, yang kemudian pada hasil dari teknologi tersebut akan tergambarkan usia, keterangan riwayat kegiatan, asal negara, dan informasi-informasi tambahan orang asing yang bersangkutan.


Tentu saja hasil tersebut meningkatkan kualitas pengawasan dan keamanan negara dari bidang Keimigrasian, yang mana nantinya data perlintasan dari SIMKIM tersebut akan terintegrasi dengan sistem Interpol I/24 untuk bekerja sama dalam penanganan dan pencegahan guna adanya orang-orang yang dicari dalam kejahatan transnasional dan semacamnya.


SIMKIM sampai saat ini sudah sangat jauh meningkat dalam segi fitur dan kegunaannya. Namun akan lebih baik dan lengkap lagi apabila mulai sekarang kita mencoba untuk membangun dan mengembangkan sebuah sistem inovasi yang berfokus pada keamanan imigrasi di perbatasan atau tempat pemeriksaan imigrasi bukan hanya berskala nasional pada pelayanan keimigrasian untuk Warga Negara Indonesia (WNI) saja.


Comments


bottom of page